Dampak Ekonomi agresi isralel terhadap gaza
REPUBLIKA.CO.ID, NAZARETH -- Sejak Israel melancarkan agresinya
terhadap Gaza, kini Gaza dalam kondisi yang memprihatinkan. Begitu pula
dengan di Israel, dampak pertempuran ini juga telah mengguncang
kehidupan warga pendudukan Israel, seperti yang dilansir Haaretz, Kamis
(7/8).
"Ini rumit. Melihat yang tidak seperti ini pada tahun
sebelumnya," ujar Souhel Farran, salah satu warga Israel yang berdiam di
Nazareth, utara tanah jajah Israel.
Pria yang membuka restoran
terkenal didaratan Nazaret berkata, kebanyakan orang termasuk dirinya
lebih memilih duduk di depan televisi dan mencari tahu kabar terbaru
saat ini, dibandingkan membuka restorannya.
Ia becerita,
Nazareth merupakan salah satu kota di Israel yang terkenal dan sering
menjadi tujuan para wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan, sebelum
saat ini, Nazareth biasanya penuh sesak dengan para wisatawan maupun
kunjungan peziarah.
Namun saat ini, dari Mary Nah hingga Gereja
Ortodoks Yunani terlihat seperti tanpa ada kehidupan. Tak hanya itu,
kafe-kafe yang mengelilingi alun-alun kota tampak sepi bahkan kosong dan
barisan panjang yang biasanya terlihat didepan pintu masuk situs
Kristen yang terkenal, kini menghilang.
"Usaha milik Yahudi,
terutama yang dekat dan berada dalam jangkauan roket Hamas, pasti telah
pindah dari tempat itu. Tetapi, hal yang paling brutal terasa adalah
ketika para warga Arab yang berdiam disini memboikot produk-produk
Yahudi," lanjutnya.
Hal tersebut sangat terasa dan terlihat
jelas. Bahkan, interaksi utama di kota ini sudah benar-benar jelas tidak
seperti biasanya.
Direktur Co-Eksekutif Sikkuy, Jabir Asaqla
mengatakan, hal tersebut dimulai ketika seorang remaja laki-laki Arab di
culik dan ditemukan tewas di Yerusalem Timur.
Sikkuy merupakan,
sebuah organisasi non-profit yang aktif dalam mempromosikan kesetaraan
di antara warga Arab dan Yahudi Israel. Faktor lainnya, ketika ada
seruan yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman
untuk memboikot bisnis Arab.
Middle East Monitor (MEMO) beberapa
hari yang lalu mengabarkan, sekitar 70 persen lembaga, pabrik dan
peternakan Zionis berhenti beroperasi. Hal tersebut telah menyebabkan
kerugian ekonomi hampir 950 dolar AS atau sekitar Rp 11,2 T.
Ditambah
dengan perkiraan kerugian dari sektor perhotelan sebesar 99 juta dollar
AS atau sekitar Rp 1,1 T dari wisatawan asing yang telah membatalkan
perjalanan menuju Israel. Dan, selebihnya sebesar 25 juta dllar AS atau
sekitar Rp 300 juta dari wisatawan lokal.
Sebelumnya, Hareetz
pada pekan lalu melaporkan, roket-roket milik gerakan perlawanan
Palestina telah menimbulkan kerugian besar terhadap perekonomian Isarel.
Yang mana agresi tersebut memaksa para pengusaha untuk memindahkan
bisnis dan proyek mereka ke daerah utara. Kemudian, mencari daratan yang
diyakini lebih aman dari serangan perlawanan Palestina.
Bahkan,
hal tersebut telah menyebabkan, banyak masyarakat Israel yang berdiam
didaerah utara Israel melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah utara
Gaza. Menurut jumlah yang dikeluarkan pada akhir Maret lalu oleh Biro
Pusat Statistik Israel menyebutkan, wilayah selatan tersebut merupakan
wilayah yang memberikan kekuatan ekonomi sekitar 10 persen. Selain itu,
memberikan kontribusi pula untuk delapan persen dari total ekspor luar
negeri Israel.
Selain itu, dalam laporan Haaretz tersebut
menyebutkan, hampir 30 persen para pekerja di pusat Israel telah kembali
bekerja di pabrik-pabrik di dalam tempat penampungan yang dibuat khusus
untuk masa perang. Namun, hal tersebut tidak cukup berpengaruh besar
dikarenakan kurangnya lingkungan kerja yang sesuai di dalam penampungan
tersebut telah mengakibatkan berkurangnya kapasitas produksi Zionis
Israel sebanyak 40 persen.
Dikarenakan hal itu, maka beberapa
pemilik pabrik dan peternakan menuntut Departemen Keuangan Israel untuk
memberikan kompensasi atas kerugian yang diderita mereka.
Menteri
Keuangan Israel Yair Lapid mengatakan, kementerian akan memberikan
kompensasi kepada semua warga yang terkena dampak perang Gaza.
Sebelumnya,
sektor swasta Israel mengalami kerugian hingga 1.25 juta dollar AS atau
sekitar Rp 1,4 T akibat perang yang dilancarkan Israel terhadap Gaza.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar